Life is…

March 12th, 2007 by ladyoholic

Hidup itu terkadang nggak berjalan seperti yang kita inginkan Hidup itu terkadang rasanya nggak semanis yang kita harapkan Memang kita harus merasakan rasa pahit dulu, baru kita akan tahu apa itu yang disebut manis Perjalanan hidup itu terkadang nggak semulus yang kita kira Kadang kala kita harus melalui jalan yang berliku-liku dulu, Naik – turun melalui jalan terjal Jatuh – bangun melalui jalan berbatu yang kasar Tapi, yang aku tahu semua itu adalah proses Proses menuju ke sebuah kemenangan Proses menuju ke sebuah kehidupan yang lebih baik Proses menuju sebuah kedewasaan Seperti halnya kalau kita nggak pernah jatuh, maka kita nggak akan pernah mencoba untuk berdiri Hidup itu memang proses pembelajaran Belajar berjalan, jatuh, kemudian bangkit lagi… Belajar mencintai, memiliki, kemudian kehilangan… Belajar tersenyum, tertawa, kemudian menangis… Belajar menerima, menolak, diterima, bahkan ditolak Belajar menghargai sebuah kemenangan, dan mencoba sportif untuk sebuah kekalahan Jadi, bagiku hidup itu memang sebuah misteri dan ANUGERAH yang luar biasa!

The Meaning of Love

March 12th, 2007 by ladyoholic

Apabila cinta memanggilmu

Ikutlah dengannya, dekaplah dia,

Meskipun jalan yang kau tempuh terjal dan berliku

Apabila sayap-sayap cinta merengkuhmu

Pasrah dan menyerahlah pada cinta,

Meskipun pedang tersembunyi di balik sayap cinta

dan akan melukaimu… (Kahlil Gibran)

Perpustakaan yang KOSONG (2/3)

March 12th, 2007 by ladyoholic

Pergi ke perpustakaan memang bukan makanan sehari-hariku, tapi kalo sedikir ada pecutan, paling nggak tiu bisa menjadi motivasi. Aku berkutat cukup lama di

sana

. Di sebuah perpustakaan yang megah dan nyaman. Banyak buku coba kulahap satu persatu, samapi-samapi rasanya tumpukan2 buku itu ingin kutelan! Buku pertama, NIHIL. Buku kedua, IDEM. Buku ketiga, keempat,  kelima dan seterusnya.. ABSENT!! Woalah… ini gimana sih?! Masa dari sekian banyak buku2 komunikasi nggak ada satu pun yang bisa dijadikan referensi?! Ah iya, ternyata aku menemukan satu buku yang cukup menarik dan mungkin bisa dijadikan sebagai referensi, tapi ternyata itu memfokuskan pada televise. Well, daripada pulang ke tangan hampa, ya sudah, akhirnya kuambil saja buku itu untuk dibaswa pulang. Nggak tahu juga mau diapakan. Syukur2 kalo bisa digunakan, kalo nggak ya sudah untuk pajangan saja!

One Litter Tear (part 2)

March 12th, 2007 by ladyoholic

Sudah cukup pengalaman memalukan dan swear nggak akan pernah mau kuulangi lagi, akhirnya kembli lagi ke kost. Mau nggak mau aku mulai kepikiran lagi sama kolokiumku. Beberapa pilihan memang udah ada di kepalaku sejak siang tadi. Tapi, embali lagi pada sebuha kebingungan.. darimana aku harus mulai? Gimana kalau ditolak lagi? Asalkan tahu, aku ini benci yang namanya kekalahan dan penolakan! Hahaha! Aku memang merasa kalih sebelum berperang. Apa aku harus menyerah saja ya? Apa aku harus mundur? Tapia pa benar itu adalah jalan keluar yang terbaik? Kalo aku mundur dan terus mundur, kapan aku bias maju? Kalo aku nggak pernah mencoba terjun ke dalam sebuah peperangan, mana tahu rasanya kemanangan? Jadi, aku memutuskan untuk terus maju, walaupun aku nggak tahu akan ada berapa banyak jurang lagi yang ada di depanku

I called a ‘Damn Thing’ (sambungan One Litter Tear)

March 7th, 2007 by ladyoholic

Mencoba untuk mengalihkan perhatianku dari kolokium dan sejenak mengistirahatkan pikiranku yang penat, bersama dengan kedua cecunguk2, sebut saja mereka Nita dan Ella (oops!), pergi keluar mengihirup udara yang memang tidak segar di kota Surabaya. Rencana pertama adalah makan. OK, that’s fine. Rencana kedua, menegok seorang teman yang tergolek lemas di sebuah rumah sakit. Well, good idea, I though. Gak taunya, dasar sialan semuanya!! Dengan alasan nggak tahu dimana letak rumah sakitnya, akhirnya, rencana langsung berubah 180 derajat menjadi ‘mampir’ ke Galaxy Mall. Dengan modal pas-pasan, serta gaya dan dandanan yang bener-bener ala kadarnya, akhirnya dengan terpaksa aku nurut juga. Lha mau gimana lagi coba?! Masa aku harus nunggu di parkiran?! Bukan karena tampil tanpa make up atau hanya mengenakan polo shirt plus celana pendek aja, tapi yang menjadi BIG PROBLEM is sandal jepit biru yang udah usang dan lusuh, yang hanya pantas untuk menjelajahi kost-kost’an saja itulah yang kupakai! Gara-gara buru-buru dan ditipu, jadilah aku mengenakan sandal tak layak pakai itu untuk pergi. We..ala.. mau cuek, tapi ya gimana.. kalo mall’nya sepi sih gpp. Lha ini ternyata mall lagi rame-ramenya dan banyak orang2 yang berdandan necis! Sedangkan aku? Cuma bermodal sandal jepit usang?! Yang bener aja?! Tapi apa mau dikata, wong udah terlanjur basah.. ya udah, akhirnya sok nggak peduli aja, walaupun saat itu nggak sedikit pula orang-orang yang memperhatikan atau sekedar melirik ke arah sandal jepitku. Makasih yah buat dua orang cecunguk yang udah memberi pengalaman yang memalukan. Seumur-umur baru kali ini pergi ke mall dengan dandanan ala kadarnya dengan memakai sandal jepit usang.

One Litter Tear

March 7th, 2007 by ladyoholic

Sungguh benar-benar merupakan kejadian yang nggak begitu menyenangkan untuk terus diingat-ingat. Hari Kamis (1/3) rupanya menjadi hari yang kurang baik untuk diriku. Beberapa kejadian yang nggak pernah kuduga atau bahkan aku nggak pernah menginginkannya justru malah datang menyapaku. Oh Dear GOD… what now?

Hal pertama yang benear-benar membuatku shock adalah ketika aku diperhadapkan pada sebuah kesulitan dan kenyataan pahit. Gimana nggak pahit coba?!? Gimana aku nggak shick begitu mendengarnya?!? Cuma gara-gara kolokium aja… yang sudah banyak menyita waktu, tenaga, dan pikiran!

Hey ini loh baru kolokium, belum ntar hal-hal yang lainnya. Ya ampunn… harus berapa kali aku jatuh bangun hanya untuk sebuah kolokium? Sebuah pemikiran yang memang masih setengah matang udah kucurahkan penuh untuk KOLOKIUM tadi. Tapi apa yang selanjutnya terjadi?? Oh NO! ternyata selanjutnya aku harus mulai merobohkan konsep dan pondasi yang telah kubangun sejak awal dan menggantinya dengan yang baru. Panic? Ya tentu saja bego! Shock? Nggak perlu ditanya kale..! sekarang aku harus mulai darimana? Apakah aku harus benar-benar terseok-seok dulu? Aku bingung karena aku harus benar-benar mulai dari NOL lagi! Aku bingung karena aku harus mencari bahan dan teori-teori baru yang mungkin belum tentu ada. Huhuhu.. gimana ini?? Apakah hanya dengan sebuah tangisan aja dan segalanya menjadi beres?? Ah, ternyata memang tidak! Kalo saja tangisan itu sebuah sihir, aku rela untuk mengeluarkan berapa liter pun air mata asalkan kolokiumku beres! HUH! Mau lulus aja koq susah banget sich? Kenapa harus ada prosedur yang semacam ini? Kenapa hah??! Kenapa nggak dari awal saja mereka memintaku untuk mengganti pondasinya? Setelah sekarang di atas pondasi itu udah berdiri bangunan yang setengah jadi, baru aku disuruh merobohkannya. Kenapa hoi?! Fenny bilang, jangan menyerah dan putus asa! Mana Lady yang pantang menyerah dan gigih itu? Fen, kalo kamu mau tau jawabannya, saat ini Lady yang pantang menyerah dan gigih itu sedang tertidur pulas…

Menyakiti atau disakiti?

February 23rd, 2007 by ladyoholic

kmaren malem.. ada sepupuQ yang lagi ngadain survey kecil-kecilan. Dia tanya "kamu lebih memilih mana, disakiti atau menyakiti?" cuma butuh waktu sebentar untuk menjawabnya. Well, pada akhirnya aku jawab, "lebih baik menyakiti!" aduh.. kenapa aku bisa bilang gitu yah? terus terang… sebenarnya itu cuma karena ego-ku aja yang berbicara. mungkin selama ini aku terlalu lelah karena rasa ’sakit’ yang menimbun di hati, jadi pada saat menjawab pertanyaan itu pun, aku berharap sekali-kali bisa menjadi orang yang menyakiti.. tapi, aku tau kalo berada di posisi itu pun nggak terlalu enak. apa enaknya balas dendam dengan menyakiti seseorang yang mungkin dengan tulusnya menyanyanyi kita??

sebelum tidur, aku berfikir banyak… banyak sekali.. tentang semua hal. tentang rasa sakit, tentang keinginan menyakiti, dsb. lalu aku mulai membuka pikiranku.. dan.. ternyata jujur saja, di dalam hatiku, aku berkata "lebih baik aku disakiti" yup.. yup.. selama ini, aku selalu berusaha bersikap baik (atau bahkan telalu baik?) dan mecoba jujur dengan seseorang. Bahkan, untuk mengatakan bahwa dia "TOLOL!" saja aku tak sanggup.. apalagi.. untuk menyakiti hatinya! mungkin saja aku yang terlalu tolol dan lemah dalam hal ini.

ada argumen yang mengatakan, bagi kaum cowok memang lebih mudah untuk melupakan rasa sakit.. benarkah begitu? apakah karena cowok lebih banyak menggunakan rasio atau logikanya? apakah karena cewek lebih memikirkan dan menggunakan perasaannya? hingga segala sesuatu yang terjadi itu terus mengendap di dalam hati?

nyatanya, selama ini dan menurut pengalamanku, semuanya benar! atau mungkin hanya kebetulan saja aku bertemu orang yang seperti itu? dari hasil survey itu juga menyatakan bahwa rata-rata cowok lebih memilih untuk disakiti, entah apa alasannya..

jadi, menurutmu.. kmu ingin berada di posisi yang mana jika harus memilih diantara keduanya??